googlef1d469d5fe68ebf6.html BangJoRu: Sepak Bola
Tampilkan postingan dengan label Sepak Bola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepak Bola. Tampilkan semua postingan

IPL Vs ISL


Tentu khalayak pencinta sepak bola di tanah air saat ini mengetahui bahwa sebagai akibat dari dualism pengurusan sepak bola Indonesia secara otomatis juga melahirkan dua kompetisi yang berbeda sebagai akibat tidak ada singkron antara kedua pihak yang berseteru.PSSI dibawah pimpinan Djohar Arifin menyelanggarakan Kompetisi Indonesian Primer League atau yang akrab disebut IPL sedangkan kubu yang kontra dibawah pimpinan La Nyala menjalankan Indonesian Super League atau ISL.



Buntut dualism kompetisi tersebut tentu sebagai akibat dirubahnya kompetisi yang sebelumnya ada.Dimana keputusan Djohar untuk menggelar Liga dengan 20 Lebih peserta klub ditentang habis-habisan oleh kubu La Nyala yang menganggap kompetisi yang akan digulirkan Djohar Cacat hukum,dimana dari jumlah klub yang berlaga saja sudah menyalahi aturan Fifa,dimana batas maksimum peserta dalam sebuah liga adalah 20 klub saja.

Sebagai bentuk ketidaksetujuan format kompetisi tersebut lahirlah (kembali) kompetisi tandingan kali ini ISL lah yang bertindak sebagai kompetisi tandingan (Dulu LPI/IPL).Dimana ISL diikuti oleh 18 klub sedangkan IPL lebih sedikit dengan 13 klub saja.Tentu klub yang berlaga di IPL nyatanya seharusnya lebih sedikit,akan tetapi karena terdapat klub kluningan macam Persebaya,Arema,Persija,PSMS tentunya menambah peserta liga.
Terlepas dari hal itu kedua kompetisi ini bila dibandingkan akan memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.Sebagian besar opini masyarakat tentunya berkata ISL menyajikan kompetisi yang lebih seru dan berbobot akan tetapi tidak sedikit pula yang berkata sebaliknya,berikut adalah perbandingan antara ISL dan IPL :

Peserta/klub
Dari segi peserta klub yang berlaga memang bisa dikatakan ISL menyajikan hal yang lebih bervariasi karena dengan 18 klub yang berlaga aka nada banyak aksi yang dipertontonkan kepada masyarakat baik yang melihat secara langsung (stadion) maupun yang tidak langsung (Tipi).Berbeda dengan IPL yang jumlahnya lebih sedikit tentunya akan berbeda.Terlebih dengan klub-klub besar yang berlaga di ISL macam Sriwijaya,Persipura,Persija dll tentu sang empu pendukung klub otomatis lebih bejibun dibanding dengan klub-klub IPL yang masih menggandalkan jumlah bonek sebagai penyumbang terbesar penonton IPL.

Pemain
Hampir 80 persen pemain Timnas (sebelum diganti) berlaga di ISL,tentunya hal ini juga sebagai cerminan bahwa dengan pemain-pemain top yang ada di ISL akan membuat jalannya pertandingan ISL jauuh lebih menarik dibandingkan dengan IPL yang masih setia menggandalkan muka-muka baru tetapi dengan skill yang bisa dibilang kalah jauh dibandingkan dengan pemain-pemain ISL yang sudah meraskan manis,pait menjadi pemain bola.

Siaran TV
Tentu tidak ada yang meragukan kualitas tayangan sepak bola yang dilakukan oleh ANTV dalam menyiarkan kompetisi sepak bola di tanah air.Hal itu bisa dilihat dengan pengambilan gambar selama pertandingan yang bisa dikatakan baik dibanding dengan stasiun TV lain (tentunya dalam hal sepak bola secara langsung) tentunya ISL akan serasa nyaman dilihat oleh penikmat sepak bola yang menonton lewat tv,hal berbeda ditunjukkan dengan kompetisi IPL yang menunjuk 3 stasiun tv yang berbeda untuk menyiarkan pertandingan,dimana dari ketiganya bisa dibilang hanya satu  yang bisa dikatakan bagus dalam hal pengambilan gambar siaran televise (sepak bola).

Jadwal
Dengan jadwal yang (hampir) setiap hari mnayangkan pertandingan,bisa dibilang ISL lebih banyak variasi dinading dengan IPL yang hanya 3 hari (sabtu minggu,senin).

Wasit
Bicara soal wasit tentunya IPL lebih unggul disbanding dengan ISL yang bisa membuat orang meso-meso jika melihat kinerja wasit yang ada di ISL.Kontroversi memang seakan tidak pernah lepas dari para perangkat pertandingan ISL hal itu ditunjukkan dengan labilnya wasit dalam memimpin pertandingan,bahkan image wasit sogok’an pun belum akan hilang dalam kompetisi di ISL.IPL Lumayan lah untuk kinerja wasit.

Tentunya itulah pandangan yang saya tangkap ketika menyaksikan dua kompetisi elit Indonesia,terlepas dari segala hal tentu ISL lebih bagus dari IPL,meskipun ada beberapa hal sebagai pengecualian.Akan tetapi sebagai masyarakat Indonesia,saya pun berharap agar kompetisi di Indonesia HANYA SATU saja bukan dualisme kompetisi seperti ini yang saya harapkan,terlepas dari itu saya doakan agar sepak bola Indonesia tetap Jalan Terus,dan Semoga segala bentuk dualisme berubah menjadi satu-kesatuan untuk sepak bola yang lebih majuu,BRAVO SEPAK BOLA INDONESIA !!!.

Sudahkah Anda Menjadi Suporter yang Setia ?






Bicara tentang sepakbola tentunya tidak akan pernah bisa lepas dari para supporter yang mendukung di pinggir lapangan maupun yang heboh didepan layar digital.Tidak hanya itu Suporter itu ibarat nafas kedua bagi kelangsungan hidup suatu klub sepak bola disamping kucuran dari sponsor karena apa disamping memberi dukungan tentunya materi juga di berikan oleh supporter entah itu dalam bentuk membeli tiket pertandingan maupun pembelian marcendhise klub atau bahkan yang lebih ekstrim ada yaitu memberi sumbangan ketika krisis financial klub mancapai klimaksnya.


Bicara tentang supporter luar negeri dengan Indonesia tentunya sedikit berbeda.hal itu karena supporter sepak bola di Indonesia yang Fanatik dengan beberapa klub yang berlaga di Indonesia masih dikatakan baru dibandingkan dengan kompetisi di luar negeri.Memang sih masih ada 3-4 an kelompok supporter yang sudah SANGAT Fanatik di Indonesia.Disamping itu masih muda nya umur sebuah klub yang ada di Indonesia juga berperan dari jumlah supporter fanatic yang ada.


Tapi seiring berjalannya waktu jumlah pendukung fanatic klub sepak bola di Indonesia Meningkat drastis sejak era Industri sepak bola yang digulirkan di Indonesia.Langsung saja saya membahas pokok permasalahannya saja. Sebuah klub yang berada di puncak kejayaannya tentu tak akal lepas dari keberadaan supporter yang makin menjamur mendukung tim idolanya agar tetap bisa terus Berjaya merajai kompetisi,memenagkan setiap pertandingan,dan puncaknya melihat trofi juara singgah di homebase mereka.


Tapi jika kondisi sebaliknya atau bahkan bisa dibilang parah sekalipun ketika prestasi klub berada di titik nadir atau bahkan diambang kebangrutan akankah rasa setia supporter itu akan tetap ada?apakah masih rela tim pujaannya dibantai dihadapan mereka?.Terus terang saya pun menangkap beberapa fenomena yang bisa dibilang miris yang ada disekitar saya.Yaitu ketika sebuah klub sepak bola sedikit demi sedikit kehilangan para pendukung fanatiknya,sampai saya bertanya-tanya kemana ribuan penonton setia yang dulu hadir di stadion kebanggaan klub kota mereka ini?Dimana supporter yang dulu memenuhi stadion ini?.


Saya sungguh sangat menyayangkan orang-orang yang dulu begitu fanatic mendukung klubnya (dulu) sekarang begitu acuh tak acuh dengan kondisi klub yang dulu pernah menjadi pujaannya.Dikondisi seperti inilah loyalitas supporter diuji ketika kondisi klub berada di titik nadir masihkah mereka setia mendukungnya atau bahkan malah sebaliknya (berpaling mendukung yang lain).


Seharusnya Suporter kita bisa mencontoh seperti yang ada diluar negeri sana, Contohlah Suporter di kota naples yang tetap setia mendukung tim kebanggaannya NAPOLI yang ketika itu berada di titik nadir atau bahkan lebih ekstrem lagi bisa diibaratkan sudah jatuh dari langit saja tepat jika diibaratkan kepada klub Italia ini.Bagaimana tidak Napoli yang dulunya klub yang begitu disegani dikancah kompetisi bahkan pemain yang berpredikat pemain terbaik dunia Diego maradona ada disana.Tapi apa ketika medio awal abad 21 klub ini tak ubahnya menjadi klub pesakitan dan harus rela turun ke kasta yang lebih rendah.Tetapi sekalipun begitu klub ini mampu bangkit kembali ke habitadnya seperti dulu,memang itu semua tidak lepas dari dukungan dari para pendukung fanatiknya yang setia mendukung timnya dikala terpuruk,dikala menjadi bulan-bulanan para pesaingnya,akan tetapi kondisi itu semua berubah 180 derajat lihatlah sekarang Napoli kembali menjadi klub yang disegani baik di kompetisi lokal maupun Eropa sekalipun.


Memang masih banyak contoh klub seperti Napoli yang saya jabarkan diatas tapi saya tidak akan menceritakan satu persatu disini.Saya hanya prihatin tentang loyalitas para supporter yang ada di negeri ini yang begitu seenaknya saja berpindah kelain hati (kayak orang pacaran aja hahaha) tapi itulah yang terjadi sekarang.

Sepak bola memang tak akan pernah lepas dari kontroversi baik itu didalam maupun diluar lapangan terlepas dari itu semua kita harus bijak dalam menentukan pilihan maupun pendirian kita termasuk juga dalam mensuport tim Idola kita Jangan karena Uang loyalitas anda bisa Berpaling ke lain,sekali lagi saya Tanya


“Sudahkah Anda Menjadi Suporter yang Setia?”.


sumber gambar : google

Real Madrid Masih Yang Terkaya

​Ghiboo.com - Klub raksasa Spanyol dan Eropa, Real Madrid masih memegang predikat sebagai tim terkaya di dunia. Los Galaticos berhasil meraih pendapatan hingga 479,5 juta euro (setara Rp5,6 triliun) sepanjang musim 2010/2011.

Hal ini berdasarkan laporan dari Deloitte dalam Football Money League 2010/2011. Tim Ibukota ini masih menjadi klub yang mendapatkan pendapatan terbanyak dalam satu musim. Madrid berhasil mempertahankan posisi puncak selama tujuh tahun beruntun.

Sedangkan seteru abadi El Real, Barcelona ada di posisirunner-up yang meraih pendapatan 450,7 juta euro (setara Rp5,3 triliun) sepanjang musim lalu. Sedangkan di posisi berikuntnya ada klub asal Inggris, Manchester United dengan pendapatan 367 juta euro (setara Rp 4,31 triliun).

Tim asal Italia, AC Milan menjadi klub pertama yang mendapat penghasilan terbesar. Rossoneri berada di peringkat ketujuh dengan total pendapatan 235,1 juta euro (setara Rp2,7 triliun). Sedangkan tim kaya raya, Manchester City, hanya berada di posisi ke-12 dengan pemasukan 169,6 juta euro (setara Rp2 triliun).

Peringkat Football Money League

1. Real Madrid 479.5 juta euro
2. Barcelona 450.7 juta euro
3. Manchester United 367 juta euro
4. Bayern Munich 321.4 juta euro
5. Arsenal 251.1 juta euro
6. Chelsea 249.8 juta euro
7. Milan 35.1 juta euro
8. Inter Milan 211.4 juta euro
9. Liverpool 203.3 juta euro
10. Schalke 202.4 juta euro
11. Tottenham 181 juta euro
12. Manchester City 169.6 juta euro
13. Juventus 153.9 juta euro
14. Marseille 150.4 juta euro
15. Roma 143.5 juta euro
16. Borussia Dortmund 138.5 juta euro
17. Lyon 132.8 juta euro
18. Hamburg 128.8 juta euro
19. Valencia 116.8 juta euro
20. Napoli 114.9 juta euro

Klub Sepak Bola Tertua Di Dunia

Pertama kali didirikan pada 1857, Sheffield F.C. dinobatkan sebagai klub sepakbola tertua di dunia.

Klub sepakbola asal, Sheffiled, Selatan Yorkshire, Inggris ini sekarang berlaga di kompetisi Northern Premier League Division One South yang berada di level delapan dalam struktur piramida sepakbola Inggris.

Sheffield telah diakui oleh FA (Asosiasi sepakbola Inggris) dan FIFA sebagai klub sepakbola pertama di dunia, serta mendapatkan penghargaan FIFA Centennial Order of Merit (penghargaan atas kontribusi penting bagi dunia sepakbola).

Sheffield menentukan sendiri peraturan permainan sepakbolanya, yang sekarang justru menjadi dasar sepakbola modern. Seperti, gawang pertama, sepak pojok pertama, tendangan bebas pertama dan yang pertama menggunakan penerangan dalam pertandingan.

Pertandingan antar kota pertama kali dilakukan melawan London City di Battersea Park, pada 1866. Dan pada tahun 1872, Sir Charles Clegg menjadi pemain Sheffield yang mengikuti pertandingan internasional antara Inggris vs Skotlandia.

Dibawah asuhan manager Mark Shaw, klub ini finish di peringkat 11 musim lalu (2010-2011). Sekarang Sheffield F.C berbasis di Coach and Horses Ground, Dronfield, Derbyshire.

Beberapa penghargaan yang telah diraih klub tertua di dunia ini yaitu:

1. Juara FA Amateur Cup, 1903-04
2. Juara divisi dua liga Yorkshire, 1976-77
3. Juara liga Yorkshire, 1977-78
4. Juara Whitbread Trophy, 1987-88
5. Juara divisi satu liga Northern Counties East, 1988-89 & 1990-91
6. Juara liga Northern Counties East, 2000-01 & 2004-05
7. Juara Sheffield and Hallamshire Senior Cup, 1993-94, 2004-05, 2005-06, 2007-08 & 2009-10

Tips Bermain Futsal

1.Lakukan Pemanasan

Pemanasan sangat penting karena tanpa pemanasan anda akan merasa kaku dan cepat lelah saat bermain, dikarenakan otot-otot anda seperti dikagetkan dari dalam tidurnya, maka lakukanlah pemanasan tapi ingat jangan terlalu berlebihan, anda cukup melakukannya 5-7 menit, kalau berlebihan anda bakal merasa terlalu lelah saat bermain. Banyak latihan olahraga yang mendukung permainan futsal. Pemanasan seperti dalam latihan badminton akan menambah kecepatan kaki.

2.Jangan Minum Terlalu Banyak

Tips ini agar teman-teman tidak merasa kembung. Ingat, walaupun merasa sangat haus, minumlah secukupnya, jangan mengikuti hasrat, dan minumlah air yang tidak dingin dan tidak panas. Kekembungan mempengaruhi cara bermain kita.

3.Bermain Cepat dan Berputar

Dalam futsal, permainan lebih baik dilakukan dengan cepat dan tidak berlama-lama membawa bola, dan disarankan agar setelah mengoper bola secepatnya mencari posisi yang baik untuk kembali dioper. Posisi tetap tidak dianjurkan dalam bermain futsal, karena tidak cocok dengan lapangan yang kecil.

4.Tendang Dengan Ujung Kaki

Dengan beratnya bola futsal, anda dianjurkan untuk menendang bola dengan ujung kaki/jari-jari kaki, maka tendangan anda akan sangat keras. Tendangan memisang tidak terlalu dianjurkan karena masalah lapangan yang kecil lagi.

Tendangan tentunya berbeda dengan tendangan beladiri seperti taekwondo, silat, dsb.

5.Hindari Kontak Badan

Peraturan futsal sama ketatnya dengan basket. Kontak badan akan diberi pelanggaran, dan anda juga tidak boleh menyapu kaki lawan anda, tidak seperti dalam bermain bola lapangan besar. Wasit PSSI untuk futsal tentunya paham dan harus jeli masalah ini.

sumber : http://aldypatties.blogspot.com


10 Legenda Sepak Bola

Turnamen Piala Dunia selalu memunculkan pemain-pemain hebat, tapi tidak semua pemain hebat tersebut dapat menjadi legenda. Berikut ini adalah sepuluh pemain hebat yang pantas disebut sebagai legenda sepakbola dan akan terus dikenang sepanjang masa.

1. Pele (Brasil)
Pele pertama kali muncul di Piala Dunia pada tahun 1958 sebagai pemain muda berumur 17 tahun. Dia mencetak gol pertamanya di Piala Dunia ketika bermain melawan Wales di perempat-final, pertandingan keduanya di Piala Dunia. Saat usianya baru menginjak 17 tahun 239 hari, Pele dinobatkan sebagai pencetak gol termuda dalam sejarah Piala Dunia. Kehebatan Pele semakin terlihat ketika mencetak hattrick di pertandingan semi final melawan Prancis. Sampai sekarang, Piala Dunia 1958 di Swedia dikenang sebagai awal karier sang legenda. Tak berlebihan rasanya jika FIFA sampai menjulukinya sebagai King of Football.

Pernah mencetak delapan gol dalam satu pertandingan pada tahun 1964, Pelejuga mencatatkan diri sebagai pemain yang pernah enam kali mencetak lima gol dalam satu pertandingan, 30 kali quattrick, dan tak kurang dari 92 kali hattrick. Sepanjang kariernya, Pele membukukan 1.281 gol dalam 1.363 pertandingan.

2. Diego Armando Maradona (Argentina)
Rasanya tak ada satupun pemain sepakbola selain Maradona yang dipuja layaknya Tuhan. Bagi sebagian besar orang, Maradona merupakan pemain terhebat sepanjang masa dan bukannya Pele, yang mendapatkan gelar tersebut secara resmi oleh FIFA.

Walaupun hidupnya dipenuhi kontroversi, mulai dari gol Tangan Tuhan, kecanduan alkohol dan penggunaan obat-obatan terlarang, hingga akhirnya harus diusir dari Piala Dunia 1994, Maradona selalu dipuja oleh penggemarnya.

Piala Dunia Meksiko 1986 merupakan momen terbaiknya dengan beberapa momen yang tak mungkin terlupakan. Momen terbaiknya tentu saja ketikaMaradona mendribel bola dari tengah lapangan melewati lima pemain Inggris sebelum akhirnya mencetak sebuah gol yang kelak disebut sebagai gol terbaik sepanjang masa.

Gol yang dicetak ketika melawan Inggris di perempat final Piala Dunia 1986 tersebut begitu indah, dan momen itu adalah yang terbaik dalam kariernya yang membuatnya dianggap Tuhan oleh sebagian orang Argentina yang mendirikan Gereja Maradona.

Semua orang akan selalu mengingat kata-kata yang diucapkan sambil menangis oleh komentator Victor Hugo Morales ketika terjadi gol terindah sepanjang masa itu, “Gracias, Dios. Por el futbol, por Maradona, por estas lagrimas.. (Terima kasih Tuhan, untuk sepakbola, untuk Maradona, dan untuk airmata ini..)”

3. Franz Beckenbauer (Jerman)
Dalam sejarah, hanya ada dua orang yang berhasil meraih gelar Piala Duniasebagai pemain maupun pelatih, yaitu Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer. Beckenbauer yang dijuluki Der Kaizer atau sang Kaisar lebih melegenda karena dia dianggap sebagai pemain belakang terbaik dalam sejarah ketika menjadi pemain.

Beckenbauer sukses memimpin Jerman Barat menjadi juara Piala Dunia 1974, hanya tiga tahun setelah dipilih sebagai kapten tim. Di Piala Dunia terakhirnya ini pula Beckenbauer tercatat sebagai kapten pertama yang mengangkat Piala Dunia dengan desain yang terbaru, menggantikan piala Jules Rimet yang dimiliki secara permanen oleh Brasil pada 1970.

Pada Piala Dunia 1990 di Italia, Beckenbauer kembali mengangkat Piala Dunia, kali ini sebagai pelatih timnas Jerman. Sebelumnya di Piala Dunia 1986,Beckenbauer juga sukses membawa Jerman ke final hingga akhirnya dikalahkan oleh Argentina dengan sang ikonnya, Diego Maradona. Rasanya prestasi sang legenda akan sulit diulang oleh orang Jerman manapun, entah sampai kapan.

4. Johan Cruyff (Belanda)
Jika ada pertanyaan siapakah legenda terbesar Belanda di Piala Dunia, jawaban yang paling tepat tentu bukan Marco van Basten atau Ruud Gullit, tetapi Johan Cruyff. Cruyff memang tidak pernah membawa Belanda menjuarai satu turnamen pun sepanjang kariernya. Kesuksesan terbesarnya hanya membawa timnya menjadi runner-up Piala Dunia 1974, satu-satunya Piala Duniasepanjang kariernya.

Namun, kehadirannya di turnamen itu dan kesuksesannya memimpin Belanda ke tempat tertinggi dalam sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia dengan permainan total football yang sangat dahsyat itu membuat sosok Cruyffrasanya layak disandingkan dengan legenda-legenda seperti Pele, Diego Maradona, dan Franz Beckenbauer.

Visinya yang luar biasa dan kreatifitasnya sebagai playmaker tim Oranjemembawa Cruyff menjadi salah satu pemain terbesar Piala Dunia. Total Football, permainan menyerang yang sangat indah yang diusung Belanda di 1974 itu memang yang membantunya melegenda hingga saat ini. Dia adalahlegenda terbesar Belanda sampai saat ini, dan total football yang dipimpinnya tak akan pernah terlupakan.

5. Michel Platini (Prancis)
Tahukah Anda, Prancis gagal tampil di dua Piala Dunia berturut-turut, yaitu 1970 dan 1974? Ya, tim ayam jago ini memang selalu gagal lolos ke babak finalPiala Dunia sejak 1966, hingga akhirnya seorang Michel Platini yang mengenakan nomor punggung 10 dan berperan sebagai playmaker di timnas Perancis membawa negaranya kembali lolos ke Piala Dunia pada tahun 1978.

Platini pula yang membawa Prancis meraih prestasi cukup membanggakan di dua Piala Dunia selanjutnya, yaitu Piala Dunia 1982 dan Piala Dunia 1986. Dengan kemampuannya membaca permainan, teknik tinggi, dan ketajamannya di depan gawang lawan, Platini membawa Perancis meraih posisi keempat Piala Dunia 1982 dan peringkat ketiga Piala Dunia 1986.

Sejak kehadiran Platini pula Prancis diperhitungkan sebagai salah satu tim berbahaya di daratan Eropa, apalagi setelah keberhasilannya membawa Perancis menjadi juara Eropa pada tahun 1984. Walaupun Platini tidak berhasil mengangkat gelar Piala Dunia sepanjang kariernya, namun Platini tetap dianggap sebagai salah satu pemain legendaris Piala Dunia.

6. Ferenc Puskas (Hungaria)
Ferenc Puskas adalah pemain terbaik yang pernah dimiliki Hungaria, sang penguasa sepak bola dunia pada awal 1950-an. Tim yang saat itu berjuluk“Magical Magyars” ini adalah salah satu tim terbaik yang pernah ada di dunia, namun sayangnya tak pernah menjuarai Piala Dunia.

Satu-satunya Piala Dunia yang diikuti Puskas bersama Hungaria adalah Piala Dunia 1954 di Swiss. Pada saat itu, Hungaria adalah salah satu tim favorit juara. Kekuatan utama Hungaria pada saat itu adalah lini depannya yang menakutkan, terutama sang bintang Ferenc Puskas.

Walaupun tubuhnya pendek kekar dan kurang kuat di udara, catatan golnya bersama tim nasional benar-benar luar biasa, 83 gol dari 84 penampilan.

Pada Piala Dunia 1954 itu, Hungaria berhasil mencapai final dan menantang Jerman yang pada penyisihan dikalahkan 8-3. Hampir semua orang yakin Hungaria akan menang mudah pada partai final ini. Namun, pada kenyataannya mereka harus menerima kekalahan 3-2 walaupun telah unggul dua gol terlebih dahulu di awal pertandingan.

Puskas yang pada pertandingan itu belum 100 persen fit karena cedera berhasil mencetak satu gol. Walaupun harus menelan kegagalan besar itu, Hungaria harus bangga karena Puskas diakui sebagai salah satu pemain terbaik dalam sejarah Piala Dunia.

7. Ronaldo (Brasil)
Inilah striker terbaik yang dimiliki Brasil dalam dua dekade terakhir. Ronaldo Luis Nazario de Lima atau yang biasa disebut Ronaldo adalah pemegang rekor pencetak gol terbanyak di Piala Dunia hingga saat ini.

Pertama kali muncul di Piala Dunia 1994 sebagai seorang anak muda berumur 17 tahun, Ronaldo mencapai puncak kejayaannya di Piala Dunia pada tahun 2002 ketika Brasil sukses menjadi juara dunia untuk kali kelima. Ronaldomenjadi bintang turnamen, mencatatkan delapan gol untuk mendapatkansepatu emas yang merupakan simbol pencetak gol terbanyak.

Ronaldo mencatatkan namanya dalam sejarah Piala Dunia ketika mencetak satu gol di pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2006 Brasil melawan Ghana. Gol tersebut merupakan gol ke-15 Ronaldo di Piala Dunia, memecahkan rekor 14 gol Gerd Mueller yang telah bertahan selama lebih dari tiga dekade.

Selain itu, dirinya tercatat sebagai pemain ke 20 yang mampu mencetak gol di tiga kesempatan Piala Dunia, dan pemain kedua setelah Juergen Klinsmannyang mampu mencetak minimal tiga gol dalam masing-masing Piala Dunia di tiga kesempatan. Tak salah jika orang menjulukinya sebagai sang Fenomena.

8. Lothar Matthaeus (Jerman)
Lothar Matthaeus adalah pemegang rekor penampilan terbanyak di Piala Dunia, yakni 25 pertandingan dalam lima Piala Dunia berturut-turut. Dia adalah satu-satunya pemain, selain kiper Mexico Antonio Carbajal, yang mampu bermain di lima Piala Dunia sepanjang kariernya.

Walaupun perannya tidak terlalu terasa di Piala Dunia 1982, Matthaus menjadi pemain penting bagi Jerman di Piala Dunia 1986. Beckenbauer yang saat itu menjadi pelatih mempercayakan satu posisi di lini tengah Jerman diisi olehMatthaeus, yang saat itu bahu-membahu bersama Felix Magath di posisi tersebut.

Jerman berhasil dibawanya melaju ke final sebelum akhirnya dihancurkan Argentina 3-2. Mengecewakan memang, tetapi itulah awal kesuksesan besarMatthaeus. Menjadi kapten sejak tahun 1987, Matthaeus sukses membawa Jerman menjadi juara di Piala Dunia 1990.

Sukses Jerman ini tak lepas dari peran sentral Matthaeus di lini tengah, dan hasilnya Matthaeus diganjar berbagai penghargaan individual, seperti Pemain Terbaik Jerman 1990, Pemain Terbaik Eropa 1990, dan Pemain Terbaik Dunia 1990. Satu tahun kemudian, dia menjadi pemain pertama yang meraih FIFA World Player.

9. Eusebio (Portugal)
Jauh sebelum era Luis Figo apalagi Cristiano Ronaldo, Portugal memiliki seorang legenda bernama Eusebio. Kelebihan pemain yang berjuluk Black Panther ini adalah akselerasi dan dribelnya yang seperti kucing, ditambah lagi dengan kemampuannya dalam menembak bola ke gawang.

Terlahir di Mozambik, Eusebio dapat disebut sebagai pemain terhebat yang pernah dimiliki Portugal sampai saat ini berkat penampilan gemilangnya diPiala Dunia 1966. Eusebio membawa Portugal meraih posisi ketiga di akhir turnamen sekaligus mencatatkan namanya sebagai pencetak gol terbanyak turnamen tersebut, sehingga berhak membawa pulang sepatu emas. Berkat sembilan gol yang dicetaknya sepanjang Piala Dunia 1966 itu pula membuatnya mendapatkan gelar pemain terbaik di turnamen tersebut.

Momen terbaiknya tentu saja terjadi di pertandingan melawan Korea Utara di babak perempat-final. Tertinggal tiga gol terlebih dahulu, Portugal akhirnya bangkit lewat empat gol yang dicetak Eusebio hingga akhirnya mampu menang 5-3 di akhir pertandingan.

“Piala Dunia 1966 merupakan titik tertinggi dalam karier saya. Kami mungkin kalah di semi final, namun sepakbola Portugal adalah pemenang besar,” ujar sang legenda.

10. Bobby Charlton (Inggris)
Bobby Charlton adalah ksatria sejati Inggris. Mungkin jika Charlton tidak pernah ada, Inggris juga tidak akan pernah menjuarai satupun turnamen internasional. Ya, gelar Piala Dunia 1966 yang diraih Inggris memang tidak lepas dari peran penting Bobby Charlton di lini depan.

Dengan tinggi hanya 173 cm, Charlton sangat mengandalkan kecepatannya untuk memimpin penyerangan Inggris di Piala Dunia 1966. Tidak hanya mampu mendistribusikan bola dengan luar biasa, Bobby Charlton juga memiliki insting mencetak gol yang luar biasa. Rekor 49 gol dalam 105 penampilan bersama Inggris masih menjadi rekor gol terbanyak dalam sejarah Inggris, yang bahkan tidak mampu disamai oleh Gary Lineker sekalipun.

Charlton berpartisipasi di empat Piala Dunia. Walaupun tidak diturunkan sama sekali di Piala Dunia 1958, Bobby Charlton menjadi tumpuan timnas Inggris di tiga Piala Dunia selanjutnya. Puncaknya tentu saja ketika Charlton membawa Inggris menjadi juara Piala Dunia pada tahun 1966. Saat itu Charlton berumur 28 tahun, umur emas bagi seorang pesepakbola.

Di final melawan Jerman, Charlton harus bertarung melawan Beckenbauermuda, yang akhirnya harus mengakui kehebatan Sir Bobby. “Inggris mampu mengalahkan kami di 1966 karena Charlton hanya sedikit lebih baik daripada saya pada saat itu,” puji Sang Kaisar.